Loading...

Perang Dagang AS-Tingkok Kini Mulai Reda

Perang Dagang AS-Tingkok Kini Mulai Reda

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tingkok hingga saat ini mulai menurun. Pasalnya kedua belah pihak menjalin hubungan kerja sama terkait negosiasi perdagangan pasca peperangan ekonomi beberapa bulan yang lalu.

Melansir dari Medcom.id, Minggu semalam (28 Juli 2019), tensi perang dagang antara kedua negara itu sudah mereda saat Presiden AS, Donald Trump membuka proses kerja sama dengan telekomunikasi Tiongkok, Huwaei. Dengan keputusan ini, sejumlah perusahaan raksasa seperti Broadcom dan Google mulai memasok barang kepada Huawei.

Faktanya, Huawei telah menjadi daftar hitam (Black List) di bagian Administrasi Amerika Serikat sejak Mei 2019. Kejadian ini bermula pada saat puncak perang dagang yang intinya Huawei tidak berkenan menggunakan Chip buatan AS.

Menurut laporan lacitybeat, Minggu semalam (28 Juli 2019), Presiden Tiongkok, Xi Jinping telah melakukan pembelian produk pertanian dari pihak AS sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian KTT G20.

Sejumlah perusahaan Tiongkok telah melakukan kontak langsung kepada para eksportir AS terkait masalah harga jual-beli. Selain itu, keduanya saling sepakat dalam penentuan tarif di masing-masing barang pertanian.

– Kerja Sama Terus Berlanjut
Kantor Berita Tiongkok, Xinhua menerangkan bahwa upaya yang telah dilayangkan Xi Jinping menandakan hubungan kerja sama yang baik dengan pihak AS. Hubungan kenegaraan antara keduanya mungkin akan terus berlanjut di tahun berikutnya.

Akan tetapi, masalah baru silih berganti di beberapa bidang. Sejumlah anggota parlemen telah melakukan suatu ketidaknyamanan terhadap bantuan dari Huawei. Mereka melihat adanya ancaman besar terhadap salah satu keamanan nasional hingga internasional.

Perang Dagang AS-Tingkok Kini Mulai Reda

Menurut laporan dari agen, Minggu semalam (28 Juli 2019), kekhawatiran yang bakal terjadi pasca Pemerintah Korea Utara, Kim Jong Un melakukan perjanjian kerja sama dengan Huawei. Dalam proses tersebut, keduanya sepakat untuk memelihara dan membangun sejumlah “Commercial Wireless Network”.

Senator R-Fla, Rick Scott menggaris bawahi, Huawei bisa jadi boomerang terkait perang dagang dan keamanan nasional bagi AS. Sebagaimana mereka telah melanggar beberapa undang-undang Amerika.

Huawei telah merencanakan proses kerja sama dengan Korea Utara. Kami harus segera menyadari bahwa masalah ini tak boleh berlanjut dan merusak hubungan dengan AS. Yang mana Kongres AS siap melakukan pemantauan lebih dalam terkait masalah ini, Ucap Scott.

– Pembelaan Pemerintah Tiongkok
Sementara itu, Huawei memberi laporan terhadap The Washington Post bahwasannya antara mereka sama sekali tidak ada hubungan apapun termasuk bisnis kenegaraan.

Faktanya, Pemerintah Tiongkok masih tidak memiliki surat utang untuk menangkis perang dagang terhadap kekuasaan Amerika Serikat.
Sangat memungkinkan, Tiongkok memiliki senjata lain untuk memperkuat argumennya dalam Kongres AS.

Menurut senior think tank Lowy Institute, Richard McGregor. Tingkok berencana akan menjual senjata pertempuran dagangnya kepada AS jika itu memungkinkan.

Mengenai Gaya Hidup Masyarakat Amerika Serikat
Berita Blog

Mengenai Gaya Hidup Masyarakat Amerika Serikat

Mengenai Gaya Hidup Masyarakat Amerika Serikat – Di mana Anda meletakkan kaki maka Anda harus toleransi dengan budaya yang ada di tempat itu. Tidak terkecuali jika Anda datang ke negara Amerika Serikat ini. Seperti yang semua orang telah ketahui bahwa Amerika Serikat sendiri merupakan sebuah negara majemuk yang terdiri atas begitu banyak suku bangsa. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebudayaan yang ada di Amerika Serikat juga sangat bervariasi. Warga yang ada di Amerika Serikat kebanyakan memiliki nenek moyangnya dari negara lain.

Orang Amerika Serikat terkenal atau cenderung bersikap lebih santai dan juga informal. Dan inilah yang harus Anda ketahui tentang hal-hal yang terjadi di Amerika Serikat.

  • Mengucapkan salam
    Yang pertama yaitu mengucapkan salam. Bagi masyarakat Amerika Serikat mengucapkan salam cenderung bersifat informal. Anda bisa memperkenalkan diri atau menyapa teman menggunakan nama pertama anda. Jika Anda datang bersama teman-teman Anda yang lain ke Amerika untuk bermain kasino dan bertemu orang yang belum dikenal satu sama lain, Anda bisa memperkenalkan diri. Sebenarnya tanpa anda ke pergi Amerika untuk bermain kasino juga bisa, karena sekarang sudah tersedia permainan judi online kasino yang banyak di mainkan oleh banyak orang tapi jika anda yang belum pernah pergi ke kasino dan ingin tahu bentuk kasino, lebih baik anda langsung ke kasino Amerika untuk bermain dan rasakan sendiri sensasinya sendiri serta anda bisa mendapatkan banyak teman baru disana. Ketika Anda berada di kasino untuk bermain, anda pasti akan bertemu banyak orang disana dan hal yang harus anda lakukan adalah mengucapkan salam ataupun berjabat tangan kepada orang yang baru anda temui karena itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh mereka. Sehingga Anda bisa memulai percakapan dengan orang yang baru anda kenal di kasino tersebut. Orang Amerika Serikat juga cenderung tidak menyukai percakapan yang basa-basi.
  • Etika
    Mengenai etika di Amerika Serikat terkenal lebih santai. Negara ini senang akan adanya pesta ataupun jamuan makan malam. Namun jika Anda datang ke pesta masyarakat di sana tidak perlu kaget karena kebanyakan pesta tersebut akan bersifat santai. Bahkan pakaiannya juga yang dikenakan lebih santai. Jika Anda menghadiri acara makan malam di Amerika Serikat hal penting yang harus Anda lakukan adalah mulailah makan ketika tuan rumah yang mengundang sudah mempersilahkan.

Itulah beberapa hal yang dapat anda ketahui mengenai Amerika Serikat. Orang Amerika Serikat memang memiliki begitu banyak suku budaya. Sehingga Anda dapat menemukan berbagai budaya di Amerika Serikat. Untuk itu pandai-pandailah bersosialisasi ketika datang berkunjung atau bahkan melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat sendiri terkenal dengan berbagai Universitas ternama yang ada di sana.

Sistem Pendidikan Yang di Terapkan di Amerika
Berita

Sistem Pendidikan Yang di Terapkan di Amerika

Amerika merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan yang sangat maju. Negara berbasis Republik konstitusional Federal atau merupakan satu negara dengan banyak negara bagian yang ada didalamnya serta 1 negara distrik. Amerika ini menawarkan kualitas sistem pendidikan yang sangat menjanjikan. Akan ada banyak pilihan bagi para mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan di Negara maju ini.

Mulai dari struktur pendidikan di Amerika sendiri. Struktur pendidikannya meliputi sekolah primer dan juga sekunder. Bagi para pelajar Amerika mereka akan memasuki sekolah primer dan juga sekunder ini dalam kurun waktu 12 tahun. Dalam waktu 12 tahun, pelajar Amerika yang memasuki umur 6 tahun akan mulai bersekolah pada sekolah primer. Di Amerika sana sekolah primer disebut sebagai elementary school atau Sekolah Dasar di Indonesia. Jika sudah selesai sekolah primer maka akan dilanjutkan dengan sekolah sekunder. Jika sudah memasuki sekunder ini maka akan terbagi menjadi 2 program. Program tersebut yaitu middle school atau sekolah menengah atau junior high school. Dan juga program keduanya yaitu high school atau sekolah menengah atas. Bagi para pelajar Amerika Serikat yang sudah lulus High School mereka akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Indonesia lebih sering disebut sebagai Universitas. Mereka akan mendapatkan gelar di diploma selama kurun waktu kurang lebih 2 tahun. Di Amerika Universitas lebih dikenal sebagai higher education .

Untuk sistem penilaian dari negara Amerika ini juga unik. Bagi Anda yang ingin melanjutkan perguruan tinggi ke Amerika ini Anda harus mengirimkan berbagai transkrip akademik. Hal itu merupakan salah satu syarat yang harus dilengkapi untuk mendaftar di Universitas. Transkrip akademik ini sangat penting di Amerika. Karena dianggap sebagai great atau nilai dan Grade Point Average atau GPA yang merupakan Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK. Sehingga digunakan sebagai ukuran dari pencapaian akademik Anda pada jenjang sebelumnya. Ada banyak variasi penilaian yang diterapkan di negara Amerika ini.

Sehingga bagi Anda yang ingin mencoba meneruskan pendidikan ke negara Amerika ini harus dapat mempertimbangkan kampus mana yang tepat untuk Anda memasuki sesuai dengan persyaratan dan nilai yang dimiliki. Di Amerika Serikat saat ini untuk tahun ajaran baru biasanya dimulai pada bulan Agustus atau September. Kemudian tahun akademik tersebut dilanjutkan pada bulan Mei atau pada bulan Juni. Sehingga dapat dikatakan bahwa banyak maba atau mahasiswa baru yang memulai pendidikan pada musim gugur. Amerika Serikat juga menerapkan akademik yang terdiri 2 term atau jika di Indonesia adalah akrab disebut sebagai 2 semester. Namun tidak menutup kemungkinan juga di beberapa Universitas Amerika Serikat menggunakan kalender 3 term semester.

Sistem pendidikan yang ada di Amerika ini memang sangat luar biasa. Banyak universitas-universitas ternama yang berada di negara ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan banyak sekali mahasiswa internasional yang berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri ketika pembukaan mahasiswa baru di berbagai Universitas dibuka. Untuk itu Anda yang ingin melanjutkan pendidikan di Amerika harus berusaha keras dan mencari banyak-banyak informasi.

Amerika Serikat Akhiri Perang Dagang dengan Memulai Kembali Bisnis dengan China
Arsip Berita Blog

Amerika Serikat Akhiri Perang Dagang dengan Memulai Kembali Bisnis dengan China

Amerika Serikat Akhiri Perang Dagang dengan Memulai Kembali Bisnis dengan China – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah berkecamuk mulai dari awal tahun 2019. Karena dianggap banyak merugikan pihak Amerika, maka ia bersikeras ingin kembali berhubungan dagang dengan China. Hal ini dibuktikan oleh Larry Kudlow sebagai seorang penasehat ekonomi Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa pihaknya akan kembali memulai bisnis dan usaha dagang dengan China.

Amerika telah merencanakan hal ini dengan matang, dibuktikan dengan pernyataannya yang akan segera menemui kedua belah pihak dalam kurun waktu sepuluh hari mendatang untuk berunding membahas masalah usaha dagang dengan China. Rencananya China yang akan diundang untuk menemui pemimpin di Amerika agar mereka mendiskusikan tentang usaha dagang yang akan mereka bangun kembali.

Pernyataan Donald Trump, sama seperti yang ia publikasikan di twitter yang akan mewujudkan usaha dagang dengan China secara sehat dan berunding dan menjalin hubungan kembali dengan China secara baik-baik. Akan tetapi, pihak China belum merespon terlalu serius, mereka juga belum memastikan bahwa sepuluh hari kedepan bisa atau tidak datang menemui pihak Amerika di Washington. Dalam hal ini melibatkan Lighthizer dan Mnuchin dari pihak Amerika, dan Wakil Perdana Menteri Liu He serta Sekretaris Perdagangan Zhong Shan yang menjadi wakil dari China.

Hal utama yang menjadi alasan mengapa Amerika Serikat ingin kembali memulai bisnis atau usaha dagang dengan China karena dalam hal ini China banyak berperan dalam penyebaran dan pendistribusian barang-barang hasil industri ke Amerika. Selain itu, China juga sebagai salah satu tempat penyebaran hasil produksi Amerika. Sehingga, secara tidak langsung kedua negara ini memeiliki keterkaitan bisnis yang kuat. Jadi, apabila terjadi konflik diantara mereka pasti akan banyak menimbulkan kerugian serta berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat luas.
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China ini sebenarnya sudah berlangsung lumayan lama, ditambah lagi mereka juga telah berusaha menggunakan jalan damai untuk kembali bersama, akan tetapi sampai baru-baru ini, tepatnya pada awal tahun 2019 belum menemui titik penyelesaiannya. Sehingga, Amerika dengan tegas memutuskan untuk mengakhiri peperangan ini serta memulai kembali usaha dagang dengan China.

Itulah salah satu berita terbaru yang ada di Amerika mengenai usaha penyelesaian yang diputuskan oleh Amerika dibawah pimpinan Donald Trump yang digunakan untuk meredakan konflik dagang dengan China. Informasi ini belum lama berhasil dirangkum oleh situs https://bengkelbola.club, dan sudah berhasil di dengar oleh banyak masyarakat yang bisa berimbas pada dunia dagang online, walaupun respon atau tanggapan China belum diketahui secara pasti. Dengan hal ini, akan tercipta kembali banyak keuntungan baik itu dari lihak Amerika ataupun China serta negara-negara lain disekitarnya yang juga ikut merasakan dampak yang diperoleh dari adanya usaha dagang antara Amerika Serikat dan China.

1 Reply
Kasus Novel Baswedan Tercemar Hingga ke Kongres AS
Berita

Kasus Novel Baswedan Tercemar Hingga ke Kongres AS

Kasus Novel yang dipublikasikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan kini tercemar hingga ke Kongres Amerika Serikat (AS) pada Kamis (25 Juli 2019) sekitar pukul 21.00 WIB. Sehingga kasus tersebut menjadi pusat perhatian bagi Human Rights in Southeast Asia.

Mengutip dari Tirto.id, Sabtu (27 Juli 2019), Amnesty International Indonesia tak henti – hentinya melakukan penyerangan terhadap kasus Novel tersebut dari awal Kongres dibuka.

Kapolri Jakarta, Jenderal Tito Karnavian membentuk Tim Pencari Fakta atas kejadian itu. Investigasi yang telah mereka lakukan kurang lebih 6 bulan menguak Novel tersebut tak layak dipublikasikan.

Sebelumnya, Kongres AS telah melakukan pemantauan terhadap kasus tersebut yang isinya mengenai pemberantasan korupsi yang terjadi di Indonesia.

Baca Juga : Pemotongan Pajak di Tiongkok Setarakan Inflasi Ekonomi

Terangkatnya Kasus Novel Baswedan
Kepala Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengangkat kasus Novel tesebut ke Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga ke Kongres Amerika Serikat dengan 3 tujuan.

Yang pertama adalah korupsi merupakan isu global. Yang mana serangan atas Novel tersebut membahas sisi luar dan dalam antara Hak Asasi Manusia (HAM) dan Korupsi.

Yang kedua yaitu serangan yang telah mengindikasikan berbagai macam problematika yang terjadi dan bukan sekedar Novel belaka. Masalah ini jelas akan menjadi tinjauan umum Indonesia dalam agenda reformasi hingga penegakan HAM dan pemberantasan korupsi.

Sedangkan yang terakhir merupakan ancaman yang cukup serius tentang negara bebas korupsi hingga pelanggaran dan kekerasan terhadap HAM.

Yang menjadi inti adalah kasus tersebut harus bisa dijadikan alat pemersatu bangsa dan negara. Bukan malah melawan dan memberantas korupsi, melindungi HAM bahkan mungkin menegakkan hukum.

Pemerintah Kurang Berperan
Kepala Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Arif Maulana menyatakan, sudah ada konflik yang terselubung bahkan juga kepentingan Polri pada penanganan kasus Novel. Kedua hal tersebut telah menjadi kendala besar untuk menguak kasus yang saat ini terjadi.

“Pemerintah masih kurang berperan penting dalam menyikapi hal ini. Ironisnya, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo memberi delegasi yang kurang bermanfaat terhadap Kepolisian,” ucap Arief.
Ia pun menambahkan, Kepolisian tersebut tidak berhasil dalam menangkap kasus yang selama ini menjadi pertanyaan di Kongres AS.

Kepala Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati memberi penjelasan, Polri bisa dibilang tidak cukup serius dalam menangani kasus tersebut.

“Hal tersebut akan berdampak negatif terhadap Kepolisian Indonesia serta Pemerintah,” tandas Asfinawati.

Pembelaan Polri

Kepala Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra melakukan pembelaan, kasus Novel itu tidak perlu terangkat hingga ke Kongres Amerika Serikat.

Sebab, kinerja Polri sudah terjalin mulai dari 11 April 2017.
“Kongres AS tak perlu dijadikan batu loncatan dalam kasus ini. Karena kami sudah bekerja semaksimal mungkin dalam mengungkap dan menanganinya,” tandas Asep.

Pemotongan Pajak di Tiongkok Setarakan Inflasi Ekonomi
Berita

Pemotongan Pajak di Tiongkok Setarakan Inflasi Ekonomi

Pemotongan pajak sejauh ini telah diprogram oleh Pemerintah Tiongkok, Xi Jinping dalam upaya untuk menyetarakan inflasi ekonomi. Hal ini erat kaitannya dengan hubungan internasional terhadap pihak Amerika Serikat (AS) mengenai perdagangan.
Dilansir dari Medcom.id, Minggu (28 Juli 2019), Tiongkok sangat berpeluang besar untuk mengimbagi tarif perdagangan atas AS. Sehingga inflasi ekonomi kedua negara tersebut bakal berada di jalur yang stabil.
Telah diketahui, perang dagang yang hingga kini masih terus membeku antara Washington dengan Beijing memicu Xi Jinping untuk mengatasi masalah tersebut.

Karena itu, perang dagang antara keduanya bisa membenahi faktor ekonomi terhadap pertumbuhan perdagangan di tahun-tahun berikutnya.
Pemotongan pajak yang telah dikemukakan oleh Xi Jinping akan membantu memuluskan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Karena sejak awal, keduanya sama-sama tak ingin dirugikan dalam bidang tersebut.
Sejak awal tahun 2018, Tiongkok dan Amerika Serikat telah mengalami masa sulit. Keduanya terkepung dalam peperangan harga. Sehingga hal ini telah membuat mereka mengalami sanksi impor.

Baca Juga : Presiden Turki Tebar Ancaman Kepada AS Terkait Jet Tempur F-35

Dalam masa itu, Tiongkok masih belum melakukan penetrasi terhadap peperangan tarif yang sedang berlangsung. Meski begitu, pihaknya sudah memiliki rencana besar untuk menyikapinya hingga masalah negara tidak muncul.
Menurut pernyataan Xi Jinping, pihaknya sama sekali tidak ingin membuat pemotongan pajak terhadap negaranya. Tapi mau tidak mau hal ini harus dilakukan demi nama negara dan juga kesejahteraan perdagangan dengan Amerika serikat.
“Apapun yang akan terjadi, kami hanya ingin fokus untuk membenahi masalah ekonomi negara. Dan tak menutup kemungkinan, kerja sama dengan Pemerintah Amerika Serikat, Donald John Trump harus dilkaukan,” tambahnya.
Faktanya, Tiongkok telah mengalami pertumbuhan PDB pada kuartal II/2019 senilai 6,2 % sejak awal Juli 2019. Ini menandakan bahwa peningkatan kuartal tersebut dinilai lebih lambat dalam 2 dekade terakhir.

Meski begitu, hal tersebut tidak menjadi pukulan keras bagi pihak Xi Jinping. Karena upaya untuk menyetarakan inflasi ekonomi salah satunya dari jalan pemotongan pajak.
Menurut pendapat Direktur Utama Ekonom Tiongkok International Capital Corporation (TICC), Ling Hong. Upaya demi upaya telah diberlakukan oleh Pemerintah Tiongkok demi melangsungkan pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Pastinya ada harapan baru bagi Tiongkok bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang akan berjalan baik.
Mengutip dari CNBC, Minggu (28 Juli 2019), Ling Hong beranggapan bahwa pemotongan pajak yang diluncurkan Xi Jinping adalah solusi yang tepat.

Sejak Maret 2019, pemangkasan pajak yang dilakukan Tiongkok tercatat kurang lebih 290,66 Miliar Dollar atau setara 2 Triliun Yuan.
Peluncuran tarif terbaru AS merupakan salah satu hambatan utama Tiongkok. Meski begitu, pemangkasan pajak yang telah disepakati bersama adalah solusi terbaik dalam menyetarakan perlambatan tarif terhadap barang-barang perdagangan Tiongkok dengan AS.

Presiden Turki Tebar Ancaman Kepada AS Terkait Jet Tempur F-35
Berita

Presiden Turki Tebar Ancaman Kepada AS Terkait Jet Tempur F-35

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdorgan tebar ancaman kepada Amerika Serikat (AS) terkait program jet tempur F-35. Masalah tersebut terjadi setelah ia dikeluarkan dari proyek besar tersebut.
Melansir dari laman Kompas.Com, Sabtu (27/07/2019), Erdorgan memberi pernyataan pada rapat terbuka Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) bahwa pihaknya akan mencari solusi lain atas keputusan itu.
Ada jalan lain yang akan diampu Endorgan dan negaranya bila AS tak kunjung menyerahkan program tersebut.

Beberapa waktu lalu, AS resmi menyatakan bahwa perjanjian kerja sama dengan Turki telah berakhir. Hal ini berindikator lantaran pihak Endorgan telah membeli rudal dari Russia sejenis S-400. Pengiriman rudal tersebut telah terjadi awal Juli 2019.Terkait masalah ini, Turki akan dikenakan sanksi dari pihak Washington lantaran membeli rudal tanpa sepengetahuan AS. Namun Presiden Turki itu tetap tenang setelah mendapat pembelaan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pernyataan itu, Trump menyebut, AS telah memperlakukan Turki secara tidak adil. Ia berharap tak ada sanksi atau hal lainnya yang dapat merugikan Turki.

Baca Juga : AS Diyakini Terdepan Dalam Memenangkan Perang Mata Uang

Endorgan lalu memberi tanggapan, para pejabat AS harus mengeluarkan pernyataan dan bukti – bukti yang relevan terkait masalah pembelian rudal dari Boeing.
“Mereka harus lebih seksama melakukan tindak lanjut dalam urusan kenegaraan. Karena jika tidak, potensi hubungan antar negara kedepannya bisa jadi boomerang,” tambah Erdorgan.

Kekecewaan Presiden Turki
Seperti dikutip dari Daily Sabah, Jumat (26/07/2019), Presiden Turki itu mengatakan, jika AS tidak dapat menjalin kerja sama atas program jet tempur F-35, pihaknya akan mencari batu sandungan. Karena hal tersebut sangat penting bagi Turki tahun mendatang.
Jelas sekali hal ini sangat mengecewakan pihak Turki. Karena sebelumnya, hubungan baik itu telah terjalin selama beberapa tahun lalu. Namun sayangnya, saat ini keduanya harus berbeda jalan dalam urusan rudal.

Endorgan memberi penjelasan, hingga saat ini Turki telah melakukan perjanjian terkait pembelian rudal dengan Boeing. Terbukti, pihaknya telah memesan sebanyak 100 pesawat berteknologi baru dan super canggih.
Setelah 1 unit pesawat mereka datangkan, Turki merupakan pelanggan terbaik dan layak untuk dipermanenkan kedepannya.
Erdorgan akan buktikan bahwa pihaknya sanggup berdiri bebas tanpa campur tangan dari pihak AS.

Operasi Utama Presiden Turki
Dalam operasi utama, Presiden Turki itu akan melakukan misi militer di daerah Suriah. Misi tersebut akan membasmi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) selaku teroris.
Indikator dari hal tersebut lantaran sudah tidak ada lagi kepercayaan dari pihak AS.

Endorgan menyatakan, pihak AS yang dulunya menaruh harapan besar dalam misi itu, sekarang misi mereka sangat mustahil dan tak kan mungkin terjadi.
Pihaknya berkesempatan besar mengambil alih misi tersebut demi nama negara.

AS Diyakini Terdepan Dalam Memenangkan Perang Mata Uang
Berita

AS Diyakini Terdepan Dalam Memenangkan Perang Mata Uang

Perang mata uang yang hingga kini masih menjadi misteri akan dimenangkan oleh Amerika Serikat (AS) hingga tahun-tahun berikutnya. Beberapa pihak telah mengklaim bahwa AS sangat mampu dan berkompeten dalam mengatasi hal tersebut.
Seperti dikutip dari Medcom.id, Minggu (28 Juli 2019), sejauh ini perang mata uang masih mengalami fluktuatif, kadang AS menang kadang juga kalah.

Meski begitu, beberapa tahun terakhir AS telah banyak unggul dari beberapa negara lain. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi Washington makin hari makin meningkat.
Menurut pandangan Penasihat Ekonomi Global Pimco, Amerika Serikat, Joachim Fels. Ia menyatakan bahwa AS merupakan negara terbesar dalam bidang ekonomi. Jadi wajar saja bila perang mata uang mereka menangkan secara permanen hingga beberapa tahun kedepan.

“Semisal AS berhasil menang dalam hal itu, ini akan menjadi bukti bahwa mata uang Amerika Serikat (USD) turun secara berkala,” ujar Fels.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump menyebut bahwa AS sangat kompetitif dalam persaingan pasar global. Dan itu artinya USD merupakan mata uang yang cukup layak untuk dijadikan kiblat perdagangan antar negara.
Pada tahun 2017 silam, Trump menggelar pertemuan dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas bahwa USD sangat perlu untuk diturunkan. Sebab, hal ini bisa menjadikan AS sebagai salah satu metronom mata uang asing atas beberapa negara.

Baca Juga : Donald Trump Tidak Panik Terhadap Rudal Terbaru Korut

Fels juga menambahkan, hal yang sangat mustahil pasti akan terjadi di tahun depan. Sebab Federal Reserve System (The Fed) telah memiliki kesempatan besar dalam memotong suku bunga ketimbang beberapa bank lain seperti Bank of Japan atau Bank Sentral Eropa.
Terlepas dari itu, Fels juga beranggapa bahwa perang mata uang sejauh ini terus memanas. Dari catatannya, Bank of Japan dan The Fed bakal memungkinkan untuk memotong suku bunga hingga akhir tahun. Namun ia masih belum tahu pasti kapan kedua bank tersebut akan melakukannya.

Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden The Fed, John Williams mengungkapkan, semua bankir sangat harus cekatan dalam melakukan tindakan ini demi proses berlangsungnya pertumbuhan ekonomi dan pemangkasan suku bunga.
“Lebih cepat lebih baik jika hal ini dilakukan. Dari pada harus menunggu masalah datang, lalu segera mengatasinya,” tegas Williams.

Dalam pernyataan lain, semua orang sangat ingin jika nilai mata uang AS turun. Ini mendadakan bahwa proses perdagangan dari beberapa negara bisa berjalan lancar.
Hingga kini ada beberapa pengamat pasar yang tengah memperkirakan bahwa 25 basis poin telah terjadi atas pemangkasan suku bunga AS.
“Sekarang pertanyaannya adalah apakah perang mata uang harus selalu dimenangkan AS? Paling tidak harus anda kestabilan di beberapa waktu kedepan,” tanya Fels.

Donald Trump Tidak Panik Terhadap Rudal Terbaru Korut
Uncategorized

Donald Trump Tidak Panik Terhadap Rudal Terbaru Korut

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tidak terlalu panik terhadap peluncuran rudal terbaru milik Korea Utara (Korut). Pihaknya tetap tenang dan santai dalam menyikapi kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan. Karena ia tahu bahwa Korut bukan musuh bebuyutan AS dalam perang.

Melansir dari laman SindoNews.Com, Sabtu (27 Juli 2019), peluncuran rudal yang dimiliki Korut tersebut berjenis balistik jarak pendek. Meski demikian, senjata perang udara itu sangat berbahaya bila mendarat di satu titik.

Pada laman resmi Korea Utara, pihaknya mengisyaratkan bahwa peluncuran rudal tersebut merupakan salah satu peringatan bagi negaranya. Sebagaimana mereka telah memberinya nama Pyongyang dengan kata lain penghasut perang.
Pemimpin Rezim Pyonghang, Kim Jong Un berharap agar Seoul memutus hubungan dengan Washington, Amerika Serikat dalam agenda latihan perang ganda serta importir senjata udara.

Saat diwawancarai Reuter di Gebung Putih, Sabtu (27 Juli 2019), Donald Trump memberi pernyataan bahwa rudal tersebut sangat pendek. Beberapa negara telah memilikinya hingga saat ini.

Baca Juga : AS Bakal Menjual Suku Cadang Peralatan Militer

“Kita lihat saja apa yang bisa mereka lakukan dengan rudal itu. Karena bentuknya yang cukup standard, hal itu tak kan mungkin menjadi ancaman AS,” tegas Presiden AS itu.

Tidak Ada Masalah Negara
Donald Trump juga menegaskan pada awak media, Negara Amerika Serikat sejauh ini tidak punya masalah apapun dengan Korea Utara.
Hingga kini Kim Jong Un sangat dekat dan memiliki hubungan kerja sama cukup apik dengan Donald Trump.
Saat Pemimpin Korea Utara itu ditanya oleh Trump mengenai peluncuran roket Pyongyang. Ia memberi tanggapan bahwa pihaknya sama sekali tidak punya masalah atau hal negatif lainnya terhadap AS.

Trump memberi pernyataan, Kim masih menutup rapat – rapat tentang misil itu. Apakah Pyongyang digunakan sebagai peringatan terhadap AS atau tidak, pihaknya masih belum tahu akan hal itu.
Kim sempat melontarkan pernyataan bahwa pihaknya memiliki masalah klasik dengan Korea Selatan. Akan tetapi, masalah itu sudah lama terjadi dan mungkin saat ini tak ada lagi masalah antara mereka.

Terlepas dari itu, Pyongyang yang telah mereka rencanakan, bisa jadi akan membuat masalah besar bagi pihak AS.
Uji Coba Peluncuran Pyongyang
Sejatinya, para Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) melarang keras peluncuran rudal balistik tersebut. Namun, pemimpin Korut menolak permintaan tersebut lantaran mereka tidak mempunyai hak untuk melarangnya.
Uji coba peluncuran Pyongyang pertama akan dilakukan saat Donald Trump menemuinya beberapa bulan yang lalu.
Trump memberi isyarat bahwa perundungan denuklirisasi harus dihidupkan kembali setelah vakum sementara pada Februari 2019.
Menurut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Michael Pompeo, Pyongyang akan diluncurkan beberapa hari mendatang setelah mendapat persetujuan dari Donald Trump.

AS Bakal Menjual Suku Cadang Peralatan Militer
Uncategorized

AS Bakal Menjual Suku Cadang Peralatan Militer

Peralatan militer Amerika Serikat (AS) yang berupa suku cadang pesawat tempur akan segera dijual ke beberapa negara. Yang mana suku cadang pesawat C-17 akan dijual ke India dan C-16 ke Pakistan.

Melansir dari laman SindoNews.Com, Minggu (29 Juli 2019), Pemerintah Amerika Serikat, Donald Trump telah sepakat untuk memproses penjualan suku cadang peralatan militer kepada India dan Pakistan.

Seperti yang telah diketahui, kedua negara itu merupakan negara yang memiliki senjata nuklir. Hingga kini keduanya masih saling unjuk gigi dalam penentuan siapa yang terbaik.

Baca Juga : Kuartal II/2019 Jadi Masalah Utama Ekonomi AS

Pada hari Sabtu (28 Juli 2019), Kongres telah mendapat laporan penjualan terkait suku cadang peralatan militer setelah disetujui oleh Donald Trump.

Badan Kerja Sama Pertahanan (DCSA) Pentagon, Amerika Serikat menyebut bahwa proses pengangkutan alat perang tersebut paling tidak membutuhkan kurang lebih 60 kontraktor. Selain itu, harus ada pemantauan yang bertugas selama 24 jam demi melancarkan operasi pengiriman tersebut.

Dalam akun Twitter resmi milik kantor tersebut, @StateDeptPM, Sabtu (28 Juli 2019). Pihaknya menginformasikan bahwa harga jual suku cadang alat perang F-16 yang dijual ke Pakistan senilai 125 Juta Dollar.

Terbukti pada bulan Februari 2019, pesawat F-16 yang dimiliki Pakistan telah mengalami krisis keamanan. Yang mana Pakistan dan India telah meluncurkan beberapa pesawatnya dalam aksi pertempuran udara beberapa waktu lalu.

AS Bakal Menjual Suku Cadang Peralatan Militer

Pertempuran ini dapat diartikan sebagai pertempuran perdana antara keduanya selama beberapa dekade terakhir.
Salah satu faktor yang memicu terjadinya pertempuran itu adalah Pakistan dituding India bahwa mereka telah melakukan serangan balasan di beberapa daerah Kashmir, New Delhi. Pesawat tempur yang mereka gunakan yaitu berasal dari buatan Amerika Serikat.

Meski demikian, Pakistan sangat membantah peristiwa tersebut. Mereka mengerahkan pesawat F-16 semata-mata bukan untuk misi penyerangan New Delhi, melainkan untuk melakukan mis yang lain.
Karena merek tahu bahwa misi penyerangan terhadap India sangat menyalahi aturan dan ketentuan eksportir persenjataan Amerika Serikat.

Pada hari Sabtu (28 Juli 2019), Washington telah mengumumkan secara resmi terkait penjualan suku cadang peralatan militer pesawat C-17 ke India. Sedangkan perwakilan yang harus dikerahkan dalam pendistribusian tersebut membutuhkan 23 kontraktor.
Dari akun twiter resmi @StateDeptPM, otorisasi penjualan suku cadang C-17 kepada India ditasfir mencapai nilai 670 Juta Dollar.

Beberapa pejabat Amerika memberatkan keputusan Washington terkait penjualan peralatan militer terhadap India. Karena mereka memiliki bukti yang kuat atas himbauan Donald Trump yang dilontarkan pada tahun 2018.
Meski begitu, Washington telah memuluskan proses penjualan tersebut dengan alasan bahwa India memiliki tujuan untuk membela negara dan bukan untuk melakukan serangan balasan. Sebab, sejauh ini tidak ada larangan dari Pemerintah AS atas hal itu.

Kuartal II/2019 Jadi Masalah Utama Ekonomi AS
Arsip Berita Blog

Kuartal II/2019 Jadi Masalah Utama Ekonomi AS

Kuartal II/2019 telah menjadi masalah utama terhadap ekonomi Amerika Serikat (AS) di tahun ini. Sebagaimana pertumbuhan ekonomi di negara yang berjuluk Negeri Paman Sam itu tengah mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan terjadinya pengeluaran konsumen yang begitu banyak. Sedangkan ekspor di negara itu tengah melemah. Sehingga masalah ekonomi mudah datang tanpa bisa diprediksi.

Seperti dikutip dari lacitybeat.com, sabtu kemarin (27 Juli 2019), nilai investasi bisnis di AS masih mengalami tingkat kestabilan yang cukup rendah. Hal tersebut efek dari perang dagang dengan negara China.

Sedangkan untuk mengantisipasi resiko penurunan ekonomi tersebut, Pemerintah AS sangat wajib untuk melakukan perubahan terkait Kuartal II/2019.

Dengan kondisi ini, Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve perlu melakukan pemangkasan terhadap suku bunga beberapa hari kedepan. Jika ini terjadi, maka peristiwa ini merupakan kali pertama yang dilakukan Bank tersebut dalam 10 tahun terakhir.

Menurut laporan Reuters, Jumat kemarin (26 Juli 2019), Kuartal II/2019 tentang laporan produk domestik bruto (PDB) akan segera diorbitkan Departemen Perdagangan Amerika Serikat. Karena hal tersebut direncanakan untuk meningkatkan pelaku pasar.

Hal ini akan meruju pada penguatan dalam upaya menopang pengeluaran yang dilakukan oleh beberapa konsumen. Dengan kondisi ini, sangat tidak mungkin terjadi resesi keuangan di hari-hari berikutnya.

Kuartal II/2019 Jadi Masalah Utama Ekonomi AS

– Kekhawatiran Ekonomi Amerika Serikat
Menurut pandangan ahli ekonomi dari Moody’s Analytics, West Chester, Pennsylvania, Ryan Sweet, pasar akan mengalami ketakutan jika perlambatan ekonomi hadir. Misal beberapa tahun mendatang keuangan menurun, itu artinya perdagangan AS telah mengalami konflik.

Di sisi lain, Kuartal II/2019 akan memungkinkan PDB AS meningkatkan pemasukan taruhan hingga 1,8 persen. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan persediaaan jumlah barang yang terbilang lebih rendah. Karena di bulan Januari hingga Maret lalu, pertumbuhan ekononi tersebut terbilang cukup stabil.

Hal ini tak perlu dikhawatirkan lebih dalam, karena persaingan pasar di semua negara pasti sering terjadi. Meski begitu, PDB AS tidak boleh lengah dalam menyikapi penurunan ekonomi tersebut.

– Hasil Survey Ekonomi Tahun Lalu
Di tahun 2018, kurang lebih 2,9 persen adalah bukti bahwa ekonomi Amerika Serikat mengalami perkembangan. Karena berdasarkan survey sebelumnya, kenaikan itu bermula dari 2,5 persen.

Para ahli ekonomi AS telah memperkirakan, inflasi dalam satu periode bisa mencapai 2,0 persen jika tidak ada masalah dengan Kuartal II/2019.
Seorang pakar ekonomi dari Wells Fargo Securities, Charlotte, North Carolina, Sam Bullard mengatakan, perkembangan ekomoni PDB AS harus terjaga. Walau kenyataannya stimulus fiskal tengah memudar bahkan tidak adanya kebijakan tentang investasi bisnis.

Ia menambahhkan, memudarnya paket pemotongan pajak senilai 1,5 Triliun Dollar mempengaruhi stimulus ekonomi AS.

Mungkin kedepannya, Presiden AS, Donald Trump akan mengadopsi pemotongan pajak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahap demi tahap.